Alegria
Hening
Kepada
gerimis yang saat itu bersekutu denganku
dan kepada hening aku bersuara, aku mencoba mengadu rasa dari sekian
peristiwa, aku ingin pergi dari dunia ini jika aku tak sempat bahagiakanmu
bunda, jika aku tak mampu buatmu bangga. Haruskah kau lakukan itu semua untuk
anak semata wayangmu, kurasa itu semua tak perlu bunda. Entahlah sungguh riuh
pikiranku dipenuhi perasaan duka, haru juga rindu.
“Tidurlah nara, kamu bisa sakit jika seperti itu terus, bunda bisa marah”, suara ayah cukup lantang untuk menggugahku yang larut dalam perasaan tadi, “ya yah aku tidur sekarang” entahlah aku bisa tidur atau hanya pura-pura tidur saja agar ayah tidak terlalu khawatir. Aku paham sekali ayah juga sedang melawan rasa kehilangan dan rindu sama sepertiku. Aku merasa tengah berbicara pada hati bunda, aku ingin semua kembali seperti sedia kala, tak apa begitu saja karena memang sudah takdirku utnuk begitu, tak perlu bunda ubah semuanya hanya untuk melihatku sama dengan yang lain. Mungkin fisikku sama tapi hatiku berbeda. Haruskah aku berteriak dan mengadu kepada Tuhan agar semua kembali? Ya Tuhan pikiranku bergemuruh, aku terus terpaku dengan kondisi ini. Entah itu pagi, siang atau malam semua seperti sama , sepi.
“Tidurlah nara, kamu bisa sakit jika seperti itu terus, bunda bisa marah”, suara ayah cukup lantang untuk menggugahku yang larut dalam perasaan tadi, “ya yah aku tidur sekarang” entahlah aku bisa tidur atau hanya pura-pura tidur saja agar ayah tidak terlalu khawatir. Aku paham sekali ayah juga sedang melawan rasa kehilangan dan rindu sama sepertiku. Aku merasa tengah berbicara pada hati bunda, aku ingin semua kembali seperti sedia kala, tak apa begitu saja karena memang sudah takdirku utnuk begitu, tak perlu bunda ubah semuanya hanya untuk melihatku sama dengan yang lain. Mungkin fisikku sama tapi hatiku berbeda. Haruskah aku berteriak dan mengadu kepada Tuhan agar semua kembali? Ya Tuhan pikiranku bergemuruh, aku terus terpaku dengan kondisi ini. Entah itu pagi, siang atau malam semua seperti sama , sepi.
“Kamu
keliatan jauh lebih cantik dengan sempurna seperti ini nara”, puji teman
sebangku, nia namanya. “ah,kamu hanya tak tau saja bagaimana kondisiku yang
sebenarnya”, jawabku dalam hati karena tidak mungkin aku ceritakan padanya
sebenarnya apa yang terjadi. Lahan dandelion
yang penuh cerita, senja ini sangat berbeda meski aku tetap kesini di
jam yang sama, duduk di batu yang sama, dan dibawah pohon yang sama. Rindu dan
haru ku bisa disembunyikan oleh kata tapi air tidak bisa sembunyi dari mata,
bola mataku terus menerawang membanyangkan tubuhku melesak dalam pelukannya,
dan bibirnya mendarat dikeningku, belaian tanganya di rambutku serupa kasih
yang meninabobokan segala lelahku. Bagiku, bersamanya adalah tentang tertawa
mendengar ceritanya, membacakan berlembar-lembar puisi untukku, dan tentang mimpi-mimpi yang telah kita ciptakan. Bagiku,
kebersamaan dengannya adalah ketika aku mendengarnya bersenandung, tertawa
bahkan menggerutu. Dan aku masih tetap mendengarkan, dalam diam, dengan senyum
yang tak bisa kaulihat,sekarang.
“Sini, ayah temani nara sekarang” lagi-lagi suara ayah menggugah gemuruh hatiku.
“Hah ayah, kenapa pulang secepat ini?” jawabku dengan senyum yang kubuat selebar-lebarnya agar ayah tidak tahu bahwa aku merasakan kehilangan yang hebat sama sepertinya. “ayah sengaja pulang cepat untuk menemani nara, biar nara tidak kesepian”, ayah memang laki-laki yang sangat pengertian, wajar saja bunda selalu membanggakanya.
“Nara, kamu jangan merasa bersalah, jangan merasa berduka yang dalam, jangan merasa tidak berguna untuk bunda, ini takdir sayang. Hidupmu, hidup ayah juga hidup bunda”, ketika kata-kata ayah sampai di hatiku yang paling dalam, sebisaku menahan pecahnya tangisku, tapi ayah terus menenangkanku dan aku terus melesak dalam pelukanya sampai tubuhku terikat kuat dengan tubuh ayah. Aku tau tangis ayah juga pecah tapi karena dia laki-laki jadi dia lebih bisa menahannya, mungkin sekuat tenaga.
“Sini, ayah temani nara sekarang” lagi-lagi suara ayah menggugah gemuruh hatiku.
“Hah ayah, kenapa pulang secepat ini?” jawabku dengan senyum yang kubuat selebar-lebarnya agar ayah tidak tahu bahwa aku merasakan kehilangan yang hebat sama sepertinya. “ayah sengaja pulang cepat untuk menemani nara, biar nara tidak kesepian”, ayah memang laki-laki yang sangat pengertian, wajar saja bunda selalu membanggakanya.
“Nara, kamu jangan merasa bersalah, jangan merasa berduka yang dalam, jangan merasa tidak berguna untuk bunda, ini takdir sayang. Hidupmu, hidup ayah juga hidup bunda”, ketika kata-kata ayah sampai di hatiku yang paling dalam, sebisaku menahan pecahnya tangisku, tapi ayah terus menenangkanku dan aku terus melesak dalam pelukanya sampai tubuhku terikat kuat dengan tubuh ayah. Aku tau tangis ayah juga pecah tapi karena dia laki-laki jadi dia lebih bisa menahannya, mungkin sekuat tenaga.
Ini hari sudah keberapa,
rumah ini sepi sangat terasa sekali dukanya, jika dulu suara bunda memasak
sekarang setiap pagi suara air kran saja mungkin ayah cuma mencuci buah atau sayur
untuk membuat sarapan pagi. Jika berada disini, di ruang keluarga ini banyak
sekali foto-foto yang mengusik air mataku untuk jatuh lagi, tapi aku tidak mau
semudah itu menjatuhkan air mata lagi karena disisi lain aku juga harus bisa
membuat ayah tegar dengan caraku tidak membuatnya semakin khawatir.
“nara ada les pagi kah hari ini?” tanya ayah penuh perhatian sebagaimana bunda dulu
“tidak yah, hanya nanti siang nara latihan teater lagi” jawabku dengan mencoba berbagai cara untuk terlihat lebih bersemangat.
“Bagus, ayah temani?” tanya ayah lagi untuk perhatian kesekian kalinya, “ah tidak perlu yah, hanya jemput saja nanti ketika sudah selesai”, “ OK.Siap princess” sembari ciuman ayah mendarat di keningku yang tertutupi poni.
“nara ada les pagi kah hari ini?” tanya ayah penuh perhatian sebagaimana bunda dulu
“tidak yah, hanya nanti siang nara latihan teater lagi” jawabku dengan mencoba berbagai cara untuk terlihat lebih bersemangat.
“Bagus, ayah temani?” tanya ayah lagi untuk perhatian kesekian kalinya, “ah tidak perlu yah, hanya jemput saja nanti ketika sudah selesai”, “ OK.Siap princess” sembari ciuman ayah mendarat di keningku yang tertutupi poni.
Disini, dipanggung ini
aku memang sudah mendapatkan peran yang baik tanpa diskriminasi seperti dulu
tapi rasanya apa tidak sebaiknya aku seperti dulu saja daripada bunda
mengubahnya, dan aku kehilanganya. Sepenuhnya pikiranku tidak berada di
panggung ini, dan ketika badanku hampir melesat dari podium karena dress yang kupakai terinjak kakiku yang
hendak turun dari tangga podium, aku baru menyadari kalau ada beberapa mata
yang mengamatiku mungkin sedari tadi. “kamu kecapekan mungkin nara, istirahat
saja dulu” tegur pak sofyan sambil menepuk pundakku dari belakang.
“tidak pak, saya baik-baik saja, mari pak berlatih lagi” jawabku sambil senyum kepada beliau, tujuanya untuk membuat pelatih yang baik hati ini lega.
Suara pak sofyan mulai menguasai panggung sebesar ini, memberikan contoh dialog untukku dan Gilang, cowok pemeran pangeran di skrip ini. Aku mulai ikuti prosesi latihan dengan cukup baik dan dirasa cukup latihan hari ini pak sofyan tepuk tangan tanda latihan selesai. Mungkin nanti bunda juga akan melihat ketika hari H bahwa putrinya bisa menjadi pemeran utama dengan baik, berdesir hatiku ketika latihan selesai dan teringat bunda lagi disana. Tiada hal lain kecuali kasih bunda yang serupa udara, selalu ku hela meski tak bisa kulihat, terngiang sajak bunda ketika hujan memukul dedaunan, ketika rintik-rintiknya meruap bau tanah menjadi petrichor, ketika senja menjingga dan sampai bulan bercadar awan gemawan cinta bunda tak pernah tertutup, asa bunda menyatu dengan jiwa, seperti sekarang kasihnya sangat terasa menegakkanku yang rapuh kehilanganya. Sore ini hawanya begitu dingin, aku duduk sendiri di bangku depan sanggar tepatnya dibawah pohon matoa yang begitu rimbun dan kubiarkan saja guguran daunnya mengenai tubuhku.
“sendiri?” tanya gilang mengalihkan pandanganku seketika
“eh gilang, iya nunggu ayah” kusertai saja dengan senyum kecil untuk menjawabnya
“lain kali bawa jacket ya biar gak kedinginan” lanjut gilang, “iya tadi lupa, cie perhatian” jawabku sedikit meledek dia yang biasanya begitu dingin sedingin udara sore ini
“eh bisa godain juga, itu loh ayahnya datang” jawabnya sambil sedikit senyum
Melangkah saja aku kearah ayah dan sedikit balas senyumnya yang jarang sekali kunikmati tapi sangat begitu manis jika diamati. Sembari ayah membelokkan mobilnya aku amati saja dia yang masih duduk dibawah pohon matoa lewat kaca mobil. Entah, dia seperti menghiburku meski hanya dengan dialog singkatnya, tapi bohong sekali jika begitu saja aku tidak senang buktinya sampai malam seperti ini aku masih mengingat-ingat dialog bersamanya tadi sore, dan baru malam ini saja aku absen tidak meneteskan air mata untuk bunda. Kian hari latihanku memang semakin padat tapi semakin semangat juga, terutama demi bunda dan ayah, juga semangat karena dialog kecil di bawah pohon matoa kemarin-kemarin hari itu.
“eh gak duduk di bawah pohon matoa lagi?” tanya nya sambil mengulurkan sebotol air mineral yang maksudnya ditawarkan untukku. Kemudian aku terima dengan sesimpul senyum dan aku jawab “hari ini ayah gak jemput, jadi aku langsung pulang, lang”.
“oh gitu, aku anter ayo” tiba-tiba tawarannya begitu mengagetkanku dan membuatku menatap kearahnya seperti tidak percaya
“kenapa kamu nar, biasa aja, kenapa kaget?” tanyanya heran
“gak apa-apa lang, tapi aku gak mau pulang kerumah dulu, pengen ke lahan dandelion dulu” jawabku menjelaskan tujuan setelah dari sanggar
“ya gak apa-apa juga, aku anter” jawabnya singkat seraya berjalan lebih cepat ke arah motornya kemudian menyulurkan helm dan mempersilahkan aku duduk sepedanya. Sepanjang perjalanan memang tidak ada dialog antara kami, cuma sesekali dia menoleh kebelakang entah untuk apa tujuannya, tanpa aku komando juga ternyata dia tau jalan ke ladang dandelion dan tepat di jalan setapaknya dia memberhentikan motor.
“sudah sampai, mau apa kamu di tempat ini?” tanya nya yang mungkin dia pendam sejak tadi
“hanya mau duduk saja di bawah pohon itu” jawabku sambil menunjuk pohon oaks yang rindang, lalu ia ikuti saja langkahku kesana dan dia juga duduk disampingku sambil terus mengamati sekeliling lahan ini. “kamu tau tempat ini dari sapa?” tanyaku mengagetkanya
“jelaslah tau, ini loh tempat mainku dulu sewaktu SD karena rumahku dulu di sana” sambil menunjuk ke ujung jalan yang memang dulu kata ayah pernah ada perumahan kecil
“oh..kalau aku suka disini karena bunda” inginku memulai saja cerita
“iya aku mau tanya dan turut berduka, nara” nadanya gilang mulai landai dan tatapan wajahnya menjadi sangat begitu lembut
“bundaku, meninggal dunia karena sakit jantung koroner akut, tapi bukan itu yang buatku begitu terpukul seperti ini, lang” aku menjawabnya sambil terus menunduk, tujuannya menahan air mata yang mulai mengantong di pelupuk mata
“lalu apa?” tanyanya dengan penuh penasaran
sambil terus mengehela nafas panjang aku menahan air mata ini tapi apa daya memang selalu begitu, terus menetes selama pikiran dan hatiku riuh tentang bunda
“ah maaf aku cengeng” sengaja aku memalingkan wajahku dari gilang, tapi dia sudah mengetahuinya dan tanganya berusaha menggapai daguku dan menariknya kembali agar ia bisa lihat wajahku.
”cerita saja, tidak berlebihan kok kamu meneteskan air mata” katanya sambil senyum dengan begitu lembut
“kamu tau kan? Aku dulu cacat, aku lahir tanpa telinga kanan, aku selalu di caci dan terdiskriminasi, bahkan untuk memainkan peran utama saja aku tak pernah dapat, ya karena aku cacat itu. Mungkin bunda paham apa yang aku rasakan sedari kecil seperti itu, sedangkan usaha ayah bunda untuk mencarikanku donor telinga tidak juga berhasil, dan..” sesak rasanya untuk meneruskan ceritaku ke gilang, sedang gilang sibuk mengamati dan menenangkanku sedari tadi.
“dan akhirnya bunda mendonorkan telinga kanannya untukku” lanjutku sambil kubuka uraian rambut yang menutupi telinga kananku. “tapi, aku tidak mengetahuinya selama satu tahun lamanya, aku mengetahuinya saat ibuku sudah mengembuskan nafas terakhir” Tangisku semakin menjadi saat kuutarakan semua kepada gilang yang tak bersuara, sambil mataku yang penuh tumpahan air mata menerawang ke 20 hari yang lalu dimana saat ku duduk di samping tubuh bunda dan kubuka perlahan rambut yang terurai di sisi pipi kanannya, kulihat jelas sekali bunda kehilangan telinganya sepertiku dulu. Pecah sekali tangisku dan deras dipundak gilang, dengan sigap ia kuatkan tubuhku sambil ia pegang seerat mungkin tanganku yang sedari cerita tadi mulai berasa dingin sekali.
“Hidup ini, bukan sekadar untuk kita bernafas. Dalam gembira akan ada mendungnya, dalam hujan akan ada tawanya, hal itu namanya kehidupan. Ya seperti takdir, abu-abu warnanya, tidak setegas hitam dan putih yang mudah tertebak. Ini jalannya, jalanmu dan ayah bundamu, belajarlah satu pelajaran tersulit di dunia, Ikhlas namanya” tegas sekali gilang menguatkanku dengan diksinya, selagi air mataku masih deras mengenai kerah bajunya. Diam-diam atau terang-terangan ia sudah mutlak membuatku tenang.
“tidak pak, saya baik-baik saja, mari pak berlatih lagi” jawabku sambil senyum kepada beliau, tujuanya untuk membuat pelatih yang baik hati ini lega.
Suara pak sofyan mulai menguasai panggung sebesar ini, memberikan contoh dialog untukku dan Gilang, cowok pemeran pangeran di skrip ini. Aku mulai ikuti prosesi latihan dengan cukup baik dan dirasa cukup latihan hari ini pak sofyan tepuk tangan tanda latihan selesai. Mungkin nanti bunda juga akan melihat ketika hari H bahwa putrinya bisa menjadi pemeran utama dengan baik, berdesir hatiku ketika latihan selesai dan teringat bunda lagi disana. Tiada hal lain kecuali kasih bunda yang serupa udara, selalu ku hela meski tak bisa kulihat, terngiang sajak bunda ketika hujan memukul dedaunan, ketika rintik-rintiknya meruap bau tanah menjadi petrichor, ketika senja menjingga dan sampai bulan bercadar awan gemawan cinta bunda tak pernah tertutup, asa bunda menyatu dengan jiwa, seperti sekarang kasihnya sangat terasa menegakkanku yang rapuh kehilanganya. Sore ini hawanya begitu dingin, aku duduk sendiri di bangku depan sanggar tepatnya dibawah pohon matoa yang begitu rimbun dan kubiarkan saja guguran daunnya mengenai tubuhku.
“sendiri?” tanya gilang mengalihkan pandanganku seketika
“eh gilang, iya nunggu ayah” kusertai saja dengan senyum kecil untuk menjawabnya
“lain kali bawa jacket ya biar gak kedinginan” lanjut gilang, “iya tadi lupa, cie perhatian” jawabku sedikit meledek dia yang biasanya begitu dingin sedingin udara sore ini
“eh bisa godain juga, itu loh ayahnya datang” jawabnya sambil sedikit senyum
Melangkah saja aku kearah ayah dan sedikit balas senyumnya yang jarang sekali kunikmati tapi sangat begitu manis jika diamati. Sembari ayah membelokkan mobilnya aku amati saja dia yang masih duduk dibawah pohon matoa lewat kaca mobil. Entah, dia seperti menghiburku meski hanya dengan dialog singkatnya, tapi bohong sekali jika begitu saja aku tidak senang buktinya sampai malam seperti ini aku masih mengingat-ingat dialog bersamanya tadi sore, dan baru malam ini saja aku absen tidak meneteskan air mata untuk bunda. Kian hari latihanku memang semakin padat tapi semakin semangat juga, terutama demi bunda dan ayah, juga semangat karena dialog kecil di bawah pohon matoa kemarin-kemarin hari itu.
“eh gak duduk di bawah pohon matoa lagi?” tanya nya sambil mengulurkan sebotol air mineral yang maksudnya ditawarkan untukku. Kemudian aku terima dengan sesimpul senyum dan aku jawab “hari ini ayah gak jemput, jadi aku langsung pulang, lang”.
“oh gitu, aku anter ayo” tiba-tiba tawarannya begitu mengagetkanku dan membuatku menatap kearahnya seperti tidak percaya
“kenapa kamu nar, biasa aja, kenapa kaget?” tanyanya heran
“gak apa-apa lang, tapi aku gak mau pulang kerumah dulu, pengen ke lahan dandelion dulu” jawabku menjelaskan tujuan setelah dari sanggar
“ya gak apa-apa juga, aku anter” jawabnya singkat seraya berjalan lebih cepat ke arah motornya kemudian menyulurkan helm dan mempersilahkan aku duduk sepedanya. Sepanjang perjalanan memang tidak ada dialog antara kami, cuma sesekali dia menoleh kebelakang entah untuk apa tujuannya, tanpa aku komando juga ternyata dia tau jalan ke ladang dandelion dan tepat di jalan setapaknya dia memberhentikan motor.
“sudah sampai, mau apa kamu di tempat ini?” tanya nya yang mungkin dia pendam sejak tadi
“hanya mau duduk saja di bawah pohon itu” jawabku sambil menunjuk pohon oaks yang rindang, lalu ia ikuti saja langkahku kesana dan dia juga duduk disampingku sambil terus mengamati sekeliling lahan ini. “kamu tau tempat ini dari sapa?” tanyaku mengagetkanya
“jelaslah tau, ini loh tempat mainku dulu sewaktu SD karena rumahku dulu di sana” sambil menunjuk ke ujung jalan yang memang dulu kata ayah pernah ada perumahan kecil
“oh..kalau aku suka disini karena bunda” inginku memulai saja cerita
“iya aku mau tanya dan turut berduka, nara” nadanya gilang mulai landai dan tatapan wajahnya menjadi sangat begitu lembut
“bundaku, meninggal dunia karena sakit jantung koroner akut, tapi bukan itu yang buatku begitu terpukul seperti ini, lang” aku menjawabnya sambil terus menunduk, tujuannya menahan air mata yang mulai mengantong di pelupuk mata
“lalu apa?” tanyanya dengan penuh penasaran
sambil terus mengehela nafas panjang aku menahan air mata ini tapi apa daya memang selalu begitu, terus menetes selama pikiran dan hatiku riuh tentang bunda
“ah maaf aku cengeng” sengaja aku memalingkan wajahku dari gilang, tapi dia sudah mengetahuinya dan tanganya berusaha menggapai daguku dan menariknya kembali agar ia bisa lihat wajahku.
”cerita saja, tidak berlebihan kok kamu meneteskan air mata” katanya sambil senyum dengan begitu lembut
“kamu tau kan? Aku dulu cacat, aku lahir tanpa telinga kanan, aku selalu di caci dan terdiskriminasi, bahkan untuk memainkan peran utama saja aku tak pernah dapat, ya karena aku cacat itu. Mungkin bunda paham apa yang aku rasakan sedari kecil seperti itu, sedangkan usaha ayah bunda untuk mencarikanku donor telinga tidak juga berhasil, dan..” sesak rasanya untuk meneruskan ceritaku ke gilang, sedang gilang sibuk mengamati dan menenangkanku sedari tadi.
“dan akhirnya bunda mendonorkan telinga kanannya untukku” lanjutku sambil kubuka uraian rambut yang menutupi telinga kananku. “tapi, aku tidak mengetahuinya selama satu tahun lamanya, aku mengetahuinya saat ibuku sudah mengembuskan nafas terakhir” Tangisku semakin menjadi saat kuutarakan semua kepada gilang yang tak bersuara, sambil mataku yang penuh tumpahan air mata menerawang ke 20 hari yang lalu dimana saat ku duduk di samping tubuh bunda dan kubuka perlahan rambut yang terurai di sisi pipi kanannya, kulihat jelas sekali bunda kehilangan telinganya sepertiku dulu. Pecah sekali tangisku dan deras dipundak gilang, dengan sigap ia kuatkan tubuhku sambil ia pegang seerat mungkin tanganku yang sedari cerita tadi mulai berasa dingin sekali.
“Hidup ini, bukan sekadar untuk kita bernafas. Dalam gembira akan ada mendungnya, dalam hujan akan ada tawanya, hal itu namanya kehidupan. Ya seperti takdir, abu-abu warnanya, tidak setegas hitam dan putih yang mudah tertebak. Ini jalannya, jalanmu dan ayah bundamu, belajarlah satu pelajaran tersulit di dunia, Ikhlas namanya” tegas sekali gilang menguatkanku dengan diksinya, selagi air mataku masih deras mengenai kerah bajunya. Diam-diam atau terang-terangan ia sudah mutlak membuatku tenang.
Pementasan teater
inilah yang memang ku tunggu lebih tepatnya bunda dan ayah tunggu sejak 30 hari
yang lalu tepatnya lagi sejak 10 hari sebelum bunda tiada. Gaun merah jambu dan
rambutku yang ikal kubiarkan saja terurai tetapi tertata dengan sebuah mahkota
kecil tepat diatas poniku. Kulangkahkan kakiku menggunakan heels kaca ini, dan
kutarik kedua pipiku selagi mataku juga berputar mencari dimanakah posisi ayah
menyaksikanku di atas panggung yang gemerlap semegah ini, dan kudapati ayah
duduk di deret depan 2 bangku dari kiri., kutambah saja senyumku yang memang
kupersembahkan untuk ayah yang mewakili kehadiran bunda. Kulakoni semua seen yang dilatih dan akhirnya menuai tepuk tangan yang meriah,
sebelum ku turun dari panggung aku tengok kembali deretan bangku penonton yang
seharusnya ada bunda disamping ayah. Hah.. rupanya air mataku masih tersisa untuk
menetes tapi kali ini kuhapus, seperti kata gilang bahwa ini ikhlas namanya.
Setidaknya ku ciptakan bahagia meski bunda tidak bersamaku seperti mauku yang
sebenarnya, masih ada sosok yang begitu tegar dan menguatkan, ayah tentunya. Seperti yang telah ku bicarakan pada malam-malam
dulu, bahwa hidup adalah rentetan perjuangan demi perjuangan yang takkan pernah
usai. Tuhan. Izinkanlah aku menikmati setiap terbitan matahari dari ufuk timur
dan setiap redup senja di ufuk barat, dengan mengenggam tangan ayah selalu..
Hatiku bersajak dengan hebat, dan segera kurangkul tubuh ayah yang tegap seakan udara sekitar menjadi alegria hening seketika, menyatu dengan ketukan rinduku dan ayah pada bunda.
Hatiku bersajak dengan hebat, dan segera kurangkul tubuh ayah yang tegap seakan udara sekitar menjadi alegria hening seketika, menyatu dengan ketukan rinduku dan ayah pada bunda.